“Payless Shoesource” Bangkit dari Kebangkrutan

Peritel sepatu asal Amerika Serikat, Payless Shoesource, juga larut dalam pusaran kelesuan ritel. Di negeri asalnya, perusahaan itu tengah berjuang lepas dari jerat kebangkrutan. Sebagai isu, Payless Shoesource di Negeri Liberty sudah mengajukan pelaksanaan bangkrut pada 2017. Pada bulan Agustus lalu, CEO Paul Jones juga memastikan pamit dari perusahaan. Posisi Jones sebagai CEO sekarang digantikan sementara oleh Martin R. Wade III. Mengabarkannya Chain Store Age, Payless Shoesource tengah berusaha membenahi kembali struktur organisasinya di Amerika Serikat sebagai jurus bangkit dari keterpurukan.
Tahun 2018 Peritel sepatu itu mengumumkan, pihaknya bakal mengurangi lapisan hierarki antara kantor virtual office sentra dengan kios-kios fisiknya.

“Misi utama penyelarasan (organisasi) ini yakni menunjang hasil pembinaan, pendampingan, dan pengembangan lebih kuat bagi member regu yang memimpin kios kami,” ujar Payless Shoesource dalam pernyataan resminya. “Kecuali itu, perapihan organisasi ialah upaya terus-menerus untuk memodernisasi pendekatan kami dalam melayani pelanggan pada lingkungan ritel yang terus berubah,” tuntas juru bicara Payless Shoesource.

Tetapi sayangnya, pihak Payless Shoesource ogah menjabarkan apakah penyederhanaan struktur organisasi itu dicontoh dengan agenda pengurangan karyawan. Mulai marak Dalam catatan Arah.com, kalangan peritel di Amerika Serikat juga mulai menjalankan upaya perapihan organisasi layaknya Payless Shoesource. Sebagai teladan, Walmart.

Permulaan tahun ini, Walmart mengumumkan agenda menghilangkan 3.500 posisi pembantu kepala kios. Posisi itu termasuk krusial untuk peritel seperti Walmart, yang masih bertumpu pada ketidakhadiran kios konvensional. Pada Jumat (13/1/2018), surat berkaitan agenda itu diedarkan terhadap karyawan yang terancam PHK. Dalam suratnya, Walmart masih memberi kesempatan bagi karyawan untuk mengajukan perpindahan divisi. Sesudah menghilangkan jabatan pembantu kepala kios, Walmart bakal menghadirkan struktur organisasi baru yang lebih efisien. Sebanyak 1.700 jabatan pengawas dengan upah lebih rendah akan direkrut untuk memerhatikan bisnis yang tengah tumbuh pesat, merupakan orderan daring (online).

Perombakan besar-besaran itu bertujuan menyisihkan karyawan yang berkinerja buruk serta menunjang kaderisasi dalam perusahaan. Dalam pernyataan resminya, pihak Walmart menyebut industri ritel semakin menantang. ” Ritel berubah dengan pesat dan kami perlu berubah untuk memenuhi keperluan pelanggan,” ujar Walmart.

 

 

Info Lainnya Bisa Kunjungi : https://servio.co.id/sewa-kantor-murah-jakarta-selatan/